Mengenai Saya

Foto saya
Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya Angkatan 2009,Jurusan Teknik Sipil Konsentrasi Transportasi

Rabu, 09 Februari 2011

testing bahan


SUBJEK        : I. Testing Bahan
TOPIK           : 1. Berat Jenis Semen
 

I. Maksud dan Tujuan
a.       Maksud
Maksud dari pengujian ini adalah untuk mengetahui bagaimana mekanisme dari pengerjaan berat jenis semen
b.      Tujuan
Ø      Mengetahui cara dan langkah melakukan pengujian berat jenis semen
Ø      Mengetahui berapa besar berat jenis semen
Ø      Mengetahui nilai toleransi yang digunakan dalam melakukan pengujian berat jenis semen di dua wadah yang berbeda.

II. Peralatan dan Bahan
            Peralatan :
·         Tabung Le Chatiler
F:\Foto0722.jpg
·         Kawat
Bahan :
·         Semen = 64 gram
·         Minyak Tanah

III. Prosedur Pelaksanaan
  1. Siapkan Alat dan Bahan
  2. Masukkan minyak tanah secara perlahan kedalam botol Chatelir sampai pada skala 1,00
  3. Lalu masukkan semen 64 gram secara perlahan kedalam gelas ukur.
  4. Miringkam gelas ukur sehingga gelembungnya menghilang
  5. Lakukan hal di atas pada gelas ukur selanjutnya


IV. Data-Data Hasil Perhitungan
            I. Berat Semen / ( V2 – skala 1 )         II. Berat Semen / ( V2 – skala 1)
                = 64 / (22,71)                                    =  64 / (22.6 – 1)
                = 2.95                                                    = 2.96
V. Kesimpulan
o   Berat jenis semen Portland berkisar antara 3,00 – 3,20
o   Dalam melakukan pengujian berat jenis semen di dua wadah memiliki toleransi 0,01
VI. Referensi
            1. BS 812 : Part 3 : 1975











SUBJEK        : I. Testing Bahan
TOPIK           : 2. Konsistensi semen dan waktu ikat semen
 

I. Maksud dan Tujuan
a.   Maksud
Untuk Mengetahui atau memeriksa masih memenuhi syarat atau tidak, serta dapat melakukan prosedur pengujian.
b.  Tujuan
Ø         Memahami langkah dan tata cara melakukan pengujian Konsistensi semen
Ø          Memahami bagaimana pengaruh air terhadap konsistensi semen
Ø          Mengetahui nilai konsistensi normal semen Portland
Ø          Mengetahui waktu ikat semen
II. Peralatan dan Bahan
            Peralatan :

·         Cincin konik, alat vicat
·         Mesin pengaduk
·         Spatula
·         Stopwatch
·         Gelas ukur

Bahan :
·         Semen = 500 gram
·         Air  = 25 % dari berat semen
III. Prosedur Pelaksanaan
1.      Siapkan Alat dan bahan
2.      Masukkan semen diamkan selama 30 detik
3.      Masukkan air sebanyak 25 % dari Semen PC
4.      Campurkan air dan semen lalu aduk dengan mixer selama 30 detik dengan kecepatan (140 ± 5) rpm
5.      Hentikan mesin pengaduk selama 15 detik
6.      Jalankan kembali mesin pengaduk dengan kecepatan
7.      Angkat Pasta semen dan gumpalkan ditangan (285 ± 10) rpm selama 1 menit
8.      Bentuklah pasta semen dengan tangan seperti bola, lalu lemparkan dari kanan satu ke tangan lainnya sebanyak 6 kali dengan jarak ± 15 cm
9.      Masukkan kedalam lobang konik kemudian ratakan dengan spatula
10.  Letakkan cincin konik dibawah alat vicat dan jatuhkan alat pengukur serta catat penurunnya selama 30 detik (untuk konsistensi semen)
11.  Selanjutnya ujung alat vicat ganti dengan jarum kemudian jatuhkan dengan interval waktu 15 menit
12.  Untuk menghindari pengerasan lebih cepat setelah jarum di bawah usuran 25 mm lakukan interval waktu penurunan menjadi 5 menit, kemudian catat hasilnya.

IV. Data-Data Hasil Perhitungan
Konsistensi semen didapatkan nilai 9
Waktu ikat semen
Nomor Pengamatan Penurunan
Waktu Penurunan (menit)
Penurunan (mm)
total waktu



1
30
41
30

2
15
37
45

3
15
30
60

4
15
27
75

5
15
21
90

6
15
16.5
105

7
15
4.5
120

8
5
4
125

9
5
4
130

10
5
3.5
135

11
5
3
140

12
5
3
145

13
5
3
150

14
5
1
155

15
5
1
160

16
5
1
165

17
5
1
170

18
5
0
175










VI. Kesimpulan
o          Pada saat pengujian dengan semen merk Batu Raja type I, waktu pengikat awal yaitu 80 menit
o       Waktu ikat normal semen adalah kurang lebih 3 jam. Jika semen lebih dari 8 jam baru mengikat, maka semen tersebut sudah tidak layak lagi
o       Nilai konsistensi semen 10 ± 1
o       Air sangat berpengaruh terhadap konsistensi semen
VII. Referensi
            SNI 15-2049-1994





















SUBJEK        : I. Testing Bahan
TOPIK           : 3. Kuat Tekan Mortar
 

I. Maksud dan Tujuan
a.       Maksud
Untuk Mengetahui atau memeriksa masih memenuhi syarat atau tidak, serta dapat melakukan prosedur pengujian.
b.      Tujuan
o       Mengetahui cara melakukan pengujian kuat tekan mortar
o       Mengetahui bagaimana kuat tekan mortar dengan komposisi yang direncanakan
II. Teori Dasar
Mortar merupakan salah satu komponen yang mempunyai prioritas penggunaan dalam bidang konstruksi, walaupun tidak utama akan tetapi pengerjaan mortar harus dilakukan secara teliti terutama perbandingan dan pemilihan bahan dari campuran mortar tersebut. Kesalahan dalam menentukan kuantitas dari bahan-bahan penyusun mortar terutama jumlah air yang dipakai dan jenis pasir yang digunakan akan mengakibatkan minimnya pencapaian tujuan yang diharapkan dan bahkan akan merusak sifat-sifat mortar secara konstruksi, oleh karena itu perlu dilakukan percobaan untuk meyakinkan bahwa bahan yang dipakai dan perbandingan kuantitas dari bahan-bahan penyusun mortar akan memperbaiki dan atau merubah sifat-sifat mortar dengan tujuan tertentu dalam suatu konstruksi tertentu. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi faktor air semen (FAS) dan jenis gradasi pasir terhadap kuat tekan mortar

III. Peralatan dan Bahan
            Peralatan :
·         Mesin Tekan
·         Kubus 5X5X5 cm
·         spatula
Bahan :
·         Semen
·         Pasir
·         air

IV.Prosedur Pelaksanaan
    • Tentukan ukuran komposisi yang direncanakan
    • Aduk di mesin pengaduk dengan langkah-langkah yang telah di tetapkan
    • Bentuk benda uji dengan kubus ukuran 5 X 5 X 5 cm
    • Diamkan selama 24 jam pada suhu lembab
    • Buka  benda uji lalu rendam dalam air selama 3 hari dan 7 hari
    • Ambil benda uji dari bak perendam dan lap dengan menggunakan lap lembab
    • Tentukan berat dan ukuran benda uji
    • Letakan benda uji pada mesin tekan secara sentris 
    • Jalankan mesin dengan penambahan beban terutama berkisar antara 2 sampai 4 Kg/cm2 perdetik
Pembebanan ini dilakukan sampai batas maksimum dan catat hasilnya .
    • Hitung kuat tekan dari benda uji tersebut .
V. Data-data hasil Perhitungan
No.
Berat(gram)
Berat isi (gram/cm2)
Luas Bidang Tekan
Tanggal
Umur (hari)
Beban (gr)
kekuatan tekan mortar(Kg/m2)

Pembuatan
pengujian


1
263.08
2.10
25
08-11-2010
12-11-2010
3
162
6.48

2
272.56
2.18
25
08-11-2010
12-11-2010
3
269
10.76

3
263.02
2.10
25
08-11-2010
12-11-2010
3
205
8.2

4

0.00
25
08-11-2010
15-11-2010
7
247
9.88

5
253.71
2.03
25
08-11-2010
15-11-2010
7
26
10.04

6
260.45
2.08
25
08-11-2010
15-11-2010
7
215
8.6




VI. Kesimpulan
            Kuat tekan mortar dipengaruhi oleh umur perendaman, karena pada umur 3 hari jika dirata-ratakan kuat tekan mortar nya adalah 8,48 kg/m2 sedangkan pada tujuh hari jika di rata-ratakan adalah 9,507 kg/m2
           
VII. Referensi

            SNI 15-2049-1994
























SUBJEK        : II. PENGUJIAN AGREGAT
TOPIK           : 1. Analisa Saringan Agregat Kasar (AK) & Agregat Kasar (AH)
 

I.             Maksud dan Tujuan
a.       Maksud
Maksud dari Pengujian aggregate ini adalah mengetahui mekanisme pengujian aggregate dalam analisa saringan aggregate kasar aggregate halus
b.      Tujuan
o       Mengenal alat yang akan digunakan dalam melakukan analisa saringan
o       Mengenal jenis aggregate kasar dan aggregate halus
o       Mengetahui berapa ukuran minimum aggregate kasar dan aggregate halus

II.          Teori Dasar
Salah satu komposisi dasar campuran beton adalah agregat kasar dan agregat halus. Dalam campuran beton dibutuhkan agregat kasar dan agregat halus yang bagus, maka harus dilakukan pengujian agregat sehingga mendapatkan agregat yang sesuai. Agregat yang sesuai adalah agregat dalam kondisi SSD, setelah agregat dalam kondisi SSD, agregat perlu dilakukan analisa saringan, dalam hal ini analaisa saringan dimaksudkan untuk mengetahui MHB pada agregat, MHB adalah indek yang dipakai untuk mengukur kehalusan atau kekasaran suatu butir-butir agregat hal ini dimaksudkan untuk mengetahui besar kecil diameter suatu agregat yang dipakai untuk mencari perbandingan dari campuran agregat karena ukuran agregat juga mempengaruhi stabilitas beton.






III.             Peralatan dan Bahan
a. Peralatan :
1.      Cawan
D:\foto\LABORATORIUM POLSRI\CAWAN.jpg
2.      Timbangan (gr)
F:\Foto0721.jpg

3.      Saringan, untuk aggregate kasar dengan ukuran:
(19 mm; 9,5 mm; 4,75 mm; 2,36 mm; 1,18 mm; 0.6mm; 0.425 mm; 0.15mm; 0.075mm; pan)
      D:\foto\LABORATORIUM POLSRI\SARINGAN.jpg






4.      Saringan, untuk aggregate halus dengan ukuran:
( 4,75 mm; 2,36 mm; 1,18 mm; 0,600 mm; 0,425 mm ; 0,15 mm ; 0,075 mm ; pan)
       D:\foto\LABORATORIUM POLSRI\SARINGAN.jpg

5.      Mesin Penggetar (Electric Shieve shaker)
D:\foto\LABORATORIUM POLSRI\ELECTRIC SHIEVE SHAKER.jpg

6.      Density Spoon
D:\foto\LABORATORIUM POLSRI\SENDOK SPESI.jpg






b. Bahan :
~ Agregat Kasar (Split 3000 gram)         ~ Agregat Halus (Pasir 500 gram)
 F:\Foto0720.jpg                      D:\foto\LABORATORIUM POLSRI\PASIR.jpg

IV.             Prosedur Pelaksanaan Aggregate Kasar
1.      Timbang berat cawan yang digunakan.
2.      Saring agregat kasar dengan ukuran lolos 19 mm .
3.      Timbang agregat kasar dengan beratnya 3000 gr di dalam cawan.
4.      Masukkan agregat yang akan disaring ke dalam saringan, misalnya agregat kasar yang dimulai dengan ukuran 19 mm sampai pan.
5.      Hidupkan mesin penggetar, kemudian susun saringan-saringan tersebut. Getarkan selama 15 menit.
6.      Setelah selesai digetarkan, timbang berat  agregat yang ada di dalam saringan.

V.                Prosedur Pelaksanaan Aggregate Kasar
1.   Timbang berat cawan yang digunakan.
  1. Timbang agregat halus atau pasir dengan berat bersih pasir 500 gr, letakkan di dalam cawan.
  2. Masukkan agregat yang akan disaring ke dalam saringan.
  3. Hidupkan mesin penggetar, kemudian susun saringan-saringan tersebut. Getarkan selama 15 menit.
  4. Setelah selesai digetarkan, timbang berat masing-masing agregat yang ada di dalam saringan.
VI.             Data-Data Hasil Pengujian dan Perhitungan
Data Hasil Pengujian Agregat Kasar
Analisa saringan
Ukuran Saringan
berat tertahan(gram)
berat tertahan (%)
kumulatif % tertahan
% lolos
19
0.00
0.00
0.00
100.00
9.5
200.03
6.67
6.67
93.33
4.75
843.11
28.10
34.77
65.23
2.36
1326.51
44.22
78.99
21.01
1.18
296.93
9.90
88.89
11.11
0.6
101.18
3.37
92.26
7.74
0.425
25.96
0.87
93.12
6.88
0.15
76.06
2.54
95.66
4.34
0.075
77.43
2.58
98.24
1.76
0
52.80
1.76
100.00
0.00
total
3000
100
-
-





VII.          Data-Data Hasil Pengujian dan Perhitungan
Data Hasil Pengujian Agregat Halus
Ukuran Saringan
berat tertahan(gram)
berat tertahan (%)
kumulatif % tertahan
% lolos
4.75
0.00
0.00
0.00
100.00
2.36
3.12
0.62
0.62
99.38
1.18
1.07
0.21
0.84
99.16
0.6
68.04
13.61
14.44
85.56
0.425
98.65
19.73
34.17
65.83
0.15
303.65
60.73
94.90
7.30
0.075
19.80
3.96
98.86
1.14
0
5.70
1.14
100.00
0.00
total
500.00











VIII.       Kesimpulan
·         Aggregate Kasar
Berat tertahan maksimum dari aggregate kasar terdapat pada saringan ukuran 2.36 dan 1.18

·         Aggregate Halus
ü    Ukuran maksimum aggregate halus adalah 2.36 mm
ü   Berat tertahan yang banyak terdapat pada ukuran 0.15

IX.             Referensi
·         SNI 03-1968-1990
·         ASTM D 4791-95
·         RSNI3 1968:2010
















SUBJEK        : II. Pengujian Agregat
TOPIK           : 3.  BJ dan Penyerapan Agregat Kasar
 

I. Maksud dan Tujuan
a.   Maksud
Untuk mengetahui berat jenis pada agregat baik buruk, semu maupun efektif. Hasil dari pemeriksaan ini sangat berguna untuk pengujian-pengujian lain, seperti, kuat tekan aspal. Berat jenis sangat menentukan kadar-kadar agregat pada suatu pembuatan benda uji.
b.  Tujuan
o   Mengetahui Berat jenis aggregate kasar
o   Mengetahui kadar penyerapan aggregate kasar
II. Teori Dasar
Cara uji penyerapan air agregat kasar dan halus ini dimaksudkan untuk memberi tuntunan dan arahan bagi para pelaksana di laboratorium dalam melakukan pengujian air agregat kasar dan halus. Cara uji ini memuat ruang lingkup, peralatan, pengambilan contoh dan persiapan contoh uji, langkah kerja, perhitungan, laporan, ketelitian dan penyimpangan. Dalam pelaksanaannya berat jenis curah adalah suatu sifat yang pada umumnya digunakan dalam menghitung volume yang ditempati oleh agregat dalam berbagai campuran yang mengandung agregat termasuk beton semen, beton aspal dan campuran lain yang diproporsikan atau dianalisis berdasarkan volume absolut. Berat jenis curah yang ditentukan dari kondisi jenuh kering permukaan digunakan apabila agregat dalam keadaan basah yaitu pada kondisi penyerapannya sudah terpenuhi. Sedangkan berat jenis curah yang ditentukan dari kondisi kering oven digunakan untuk menghitung ketika agregat dalam keadaan kering atau diasumsikan kering. Berat jenis semu (apparent) adalah kepadatan relatif dari bahan padat yang membuat partikel pokok tidak termasuk ruang pori di antara partikel tersebutdapat dimasuki oleh air.
Angka penyerapan digunakan untuk menghitung perubahan berat dari suatu agregat akibat air yang menyerap ke dalam pori di antara partikel utama dibandingkan dengan pada saat kondisi kering, ketika agregat tersebut dianggap telah cukup lama kontak dengan air sehingga air telah menyerap penuh. Standar laboratorium untuk penyerapan akan diperoleh setelah merendam agregat yang kering ke dalam air selama (24+4) jam. Agregat yang diambil dari bawah muka air tanah akan memiliki penyerapan yang lebih besar apabila digunakan, bila tidak dibiarkan mengering. Sebaliknya, beberapa jenis agregat apabila digunakan mungkin saja mengandung kadar air yang lebih kecil bila dibandingkan dengan kondisi terendam selama (24+4) jam. Untuk agregat yang telah kontak dengan air dan terdapat air bebas pada permukaan partikelnya, persentase air bebasnya dapat ditentukan dengan mengurangi penyerapan dari kadar air total yang ditentukan dengan cara uji AASHTO T 255.
Prosedur umum yang digambarkan dalam cara uji ini cocok untuk digunakan dalam menentukan penyerapan agregat yang dikondisikan dengan cara uji yang berbeda dengan perendaman selama (24+4) jam, seperti penggunaan pompa hampa udara atau kondisi air.

III. Peralatan dan Bahan
Alat:
1.      Cawan
D:\foto\LABORATORIUM POLSRI\CAWAN.jpg



2.      Density Spoon
D:\foto\LABORATORIUM POLSRI\SENDOK SPESI.jpg

3.      Gelas Ukur
D:\foto\LABORATORIUM POLSRI\PIKNOMETER.jpg

4.      Timbangan (gr)
F:\Foto0721.jpg

5.      Gelas Ukur
D:\nYaE oNLyH\foto kerja Lab\ABCD0012.JPG
6.      Saringan, dengan ukuran:
(25 mm dan 12,5 mm)
061212_084604   061212_084538
7.      Oven
KLIK(152)

Bahan:
~ Agregat Kasar (lolos saringan 25 mm)         = 500 gr
F:\Foto0720.jpg

~ Agregat Sedang (lolos saringan 12,5 mm)   = 500 gr
IV. Prosedur Pelaksanaan
Cara Pengujian AK
1.      Timbang berat cawan yang digunakan.
2.      Saring agregat kasar dengan ukuran lolos 25 mm dan agregat sedang yang lolos 12,5 mm.
3.      Timbang agregat kasar dan sedang masing-masing 500 gr, letakkan di dalam cawan.
4.      Cuci bersih agregat-agregat tersebut.
5.      Masukkan dalam Oven sampai dapat berat konstan.
6.      Rendan masing-masing agregat dengan air hingga kurang lebih 24 jam.
7.      Setelah waktu perendaman selesai, agregat di lap.
8.      Timbang piknometer kosong.
9.      Timbang piknometer yang telah dimasukkan masing-masing agregat.
10.  Masukkan air ke dalam piknometer yang berisi agregat sampai pembacaan ukuran 1000 ml pada piknometer.
11.  Keluarkan air dan agregat, timbang air saja di dalam piknometer sampai 1000 ml.

V.  Data-Data Hasil Perhitungan
Pengujian
Satuan
1
2
Rata-rata
Berat gelas ukur + batu pecah + air (B1)
Gram
914.35
892.03
-
Berat gelas ukur + air (B3)
Gram
637.12
637.12
-
Berat benda uji kering oven (B2)
Gram
418.23
373.10
-
Berat benda uji SSD 500
Gram
424.92
383.43
-
Berat jnis kering = B2/B3+500-B1

2.83
2.90
2.87
Berat jenis SSD = 500/B3+500-B1

2.88
2.98
2.93
Penyerapan = 500-B2/B2 x 100 %

1.60
2.77
2.18

VI . Kesimpulan
Dari hasil pengujian di Laboratorium dapat disimpulkan bahwa nilai dari BJ kering , BJ jenuh didapat lebih besar dari 2 dan lebih kecil dari 3.

VII.          Referensi
a.    ASTM D 4791-95                          c. SNI 1969:2008
b.    RSNI3 1968:2010                          d. SNI 1970:2008                  


SUBJEK        : II. Pengujian Agregat
TOPIK           : 4.  BJ dan Penyerapan Agregat Halus
 

I. Maksud dan Tujuan
a.    Maksud
Untuk mengetahui berat jenis pada agregat baik bulk, semu maupun efektif. Hasil dari pemeriksaan ini sangat berguna untuk pengujian-pengujian lain, seperti, kuat tekan aspal. Berat jenis sangat menentukan kadar-kadar agregat pada suatu pembuatan benda uji.
b.    Tujuan
o     Mengetahui berat jenis aggregate halus
o     Mengetahui kadar penyerapan aggregate halus

II. Teori Dasar
Cara uji penyerapan air agregat kasar dan halus ini dimaksudkan untuk memberi tuntunan dan arahan bagi para pelaksana di laboratorium dalam melakukan pengujian air agregat kasar dan halus. Cara uji ini memuat ruang lingkup, peralatan, pengambilan contoh dan persiapan contoh uji, langkah kerja, perhitungan, laporan, ketelitian dan penyimpangan. Dalam pelaksanaannya berat jenis curah adalah suatu sifat yang pada umumnya digunakan dalam menghitung volume yang ditempati oleh agregat dalam berbagai campuran yang mengandung agregat termasuk beton semen, beton aspal dan campuran lain yang diproporsikan atau dianalisis berdasarkan volume absolut. Berat jenis curah yang ditentukan dari kondisi jenuh kering permukaan digunakan apabila agregat dalam keadaan basah yaitu pada kondisi penyerapannya sudah terpenuhi. Sedangkan berat jenis curah yang ditentukan dari kondisi kering oven digunakan untuk menghitung ketika agregat dalam keadaan kering atau diasumsikan kering. Berat jenis semu (apparent) adalah kepadatan relatif dari bahan padat yang membuat partikel pokok tidak termasuk ruang pori di antara partikel tersebutdapat dimasuki oleh air.
Angka penyerapan digunakan untuk menghitung perubahan berat dari suatu agregat akibat air yang menyerap ke dalam pori di antara partikel utama dibandingkan dengan pada saat kondisi kering, ketika agregat tersebut dianggap telah cukup lama kontak dengan air sehingga air telah menyerap penuh. Standar laboratorium untuk penyerapan akan diperoleh setelah merendam agregat yang kering ke dalam air selama (24+4) jam. Agregat yang diambil dari bawah muka air tanah akan memiliki penyerapan yang lebih besar apabila digunakan, bila tidak dibiarkan mengering. Sebaliknya, beberapa jenis agregat apabila digunakan mungkin saja mengandung kadar air yang lebih kecil bila dibandingkan dengan kondisi terendam selama (24+4) jam. Untuk agregat yang telah kontak dengan air dan terdapat air bebas pada permukaan partikelnya, persentase air bebasnya dapat ditentukan dengan mengurangi penyerapan dari kadar air total yang ditentukan dengan cara uji AASHTO T 255.
Prosedur umum yang digambarkan dalam cara uji ini cocok untuk digunakan dalam menentukan penyerapan agregat yang dikondisikan dengan cara uji yang berbeda dengan perendaman selama (24+4) jam, seperti penggunaan pompa hampa udara atau kondisi air.

III.       Peralatan dan Bahan
Peralatan:
1.    Cawan
D:\foto\LABORATORIUM POLSRI\CAWAN.jpg




·         Density Spoon
D:\foto\LABORATORIUM POLSRI\SENDOK SPESI.jpg

·                           Piknometer
F:\11.jpg

·                           Timbangan (gr)
F:\Foto0721.jpg

·                           Gelas Ukur
D:\nYaE oNLyH\foto kerja Lab\ABCD0012.JPG

·                           Oven
KLIK(152)

Bahan:
~ Agregat Halus (Pasir) = 500 gr
D:\foto\LABORATORIUM POLSRI\PASIR.jpg
~ Air

IV. Data-Data Hasil Penelitian dan Perhitungan
Pengujian
Satuan
1
2
Rata-rata
Berat piknometer + pasir + air (B1)
Gram
1574.91
1587.53
-
Berat piknometerr + air (B3)
Gram
1273.73
1287.62
-
Berat benda uji kering oven (B2)
Gram
481.10
483.43
-
Berat benda uji SSD 500
Gram
500.00
500.00
-
Berat jnis kering = B2/B3+500-B1

2.42
2.42
2.42
Berat jenis SSD = 500/B3+500-B1

2.51
2.50
2.51
Penyerapan = 500-B2/B2 x 100 %

3.93
3.43
3.68

V . Kesimpulan
Dari hasil pengujian di Laboratorium didapat nilai BJ kering , BJ jenuh dan pada pasir lebih besar dari 2 dan lebih kecil dari 3 .


VI.  Referensi
c.       ASTM D 4791-95
d.      RSNI3 1968:2010
e.       SNI 1969:2008
f.       SNI 1970:2008























SUBJEK        : II. Pengujian Agregat
TOPIK           : 5. Menentukan Bobot Isi Agregat Kasar Gembur dan Padat
                          6. Menentukan Bobot Isi Agregat Halus Gembur dan Padat
 

I . Maksud dan Tujuan
            a. Maksud
Pengujian ini bermaksud untuk mengetahui bobot isi aggregate kasar gembur dan boboit isi aggregate halus gembur dan padat
            b. Tujuan
1.      Menerangkan prosedur pelaksanaan penemuan bobot isi agregat .
2.      Membuktikan kebenaran hasil rancangan perhitungan bobot isi agregat sesuai dengan kenyataan , sekaligus dapat mengoreksinya jika tidak tepat.
3.      Menggunakan peralatan yang dipakai .
II. Teori Dasar
Perbedaan berat isi dan berat jenis adalah dari volumenya. Berat jenis adalah perbandingan antara berat benda dengan dengan volume mutlak dari benda itu sendiri, sedangkan berat isi adalah perbandingan antara berat benda (agregat) berbanding dengan volume alat.
Pengujian berat isi pada agregat berguna untuk mengkonversi dari satuan berat ke satuan volume. Dalam merancang campuran beton komposisi bahan ditentukan dalam satuan berat. Pada waktu membuat beton di lapangan dengan komposisi berat kurang praktis, biasanya di lapangan menggunakan komposisi perbandingan yaitu dengan takaran (volume). Untuk mengkonversi dari komposisi satuan berat ke komposisi satuan volume digunakan angka berat isi.
            Berat isi pada agregat sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berat jenis, gradasi agregat, bentuk agregat, diameter maksimum agregat. Dalam SII No. 52 – 1980, berat isi untuk aggregat beton disyaratkan harus lebih dari 1.2 Kg/liter.
III . Peralatan dan Bahan
  1. Peralatan
    • Bejana silinder                                   
    • Density spoon
    • Batang penumbuk baja                      
    • Cawan                                                
    • Timbangan

  1. Bahan
·         Agregat kasar              : Batu pecah
·         Agregat halus              : Pasir

IV . Prosedur Pelaksanaan
1. Gembur
            1. Ukur diameter dan tinggi silinder (cm) lalu timbang beratnya (gram)                        kemudian hitung volumenya (cm) .
2. Masukan agregat kasar (batu pecah) kedalam bejana silinder sampai penuh dan ratakan (jangan diguncang atau diketuk),kemudian timbang.
3. Ulangi pekerjaan  NO. 2 sampai 3x

2. Padat
1. Ukur diameter dan tinggi silinder (cm) lalu timbang beratnya (gram)                        kemudian hitung volumenya (cm) .
2. Masukan agregat halus (pasir) kedalam bejana silinder yang lain (bejana silinder yang sama setelah selesai meneliti agregat kasar) dalam 3 lapisan setiap lapis ditumbuk 25 kali kemudian ditimbang .
            3. Ulangi pekerjaan NO. 2 sampai 3 kali


V.  Data-Data Hasil Perhitungan
Keadaan gembur

Aggregate halus 
I
II
III
berat wadah

843.94
843.94
843.94
berat wadah+aggregate

3427
3420
3428
berat aggregate

2583.06
2576.06
2584.06
ukuran wadah
t
18.2
18.2
18.2
d
11.61
11.61
11.61
Volume

1925.77
1925.77
1925.77
Bobot isi=

1.34
1.34
1.34


1.34
                 Aggregate kasar




I
II
III
berat wadah

2205
2205
2205
berat wadah+aggregate

5737
5869
6032.5
berat aggregate

3532
3664
3827.5
ukuran wadah
t
15.02
15.02
15.02
d
14.88
14.88
14.88
Volume

2610.63
2610.63
2610.63
Bobot isi=

1.35
1.40
1.47


1.41

Keadaan Padat
         Aggregate halus

I
II
III
berat wadah

843.94
843.94
843.94
berat wadah+aggregate

3646
3688
3684
berat aggregate

2802.06
2844.06
2840.06
ukuran wadah
t
18.2
18.2
18.2
d
11.61
11.61
11.61
Volume

1925.77
1925.77
1925.77
Bobot isi=

1.46
1.48
1.47


1.47
                  Aggregate kasar




I
II
III
berat wadah

2205
2205
2205
berat wadah+aggregate

6520
6462
6662
berat aggregate

4315
4257
4457
ukuran wadah
t
15.02
15.02
15.02
d
14.88
14.88
14.88
Volume

2610.63
2610.63
2610.63
Bobot isi=

1.65
1.63
1.71


1.66

VI . Kesimpulan
Bobot isi yang didapat dari hasil pengujian pada masing-masing keadaan adalah:
Pasir gembur        = 1.34
Pasir padat           = 1.47
Batu pecah gembur          = 1.41
Batu pecah padat             = 1.66

VII. Referensi
            1. PC – 0102 - 76
            2. ASTM C – 138 71 T
























SUBJEK        : II. Pengujian Agregat
TOPIK            : 7. Kekerasan Agregat Kasar
 

I. Maksud dan Tujuan
            a. Maksud
Setelah akhir pelajaran mahasiswa diharapkan dapat menentukan agregat kasar untuk pembuatan suatu konstruksi beton berdasarkan kekerasannya.
            b. Tujuan
Setelah akhir pelajaran mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menerangkan prosedur pelaksanaan pengujian kekerasan agregat kasar dengan menggunakan bejana tekan ( berdasarkan standar British )
2. Menentukan sifat keras terhadap daya hancur dari agregat kasar
3. Menggunakan peralatan yang diperlukan

II. Teori Dasar
Untuk memeriksa agregat kasar ,kerikil alam dan batu pecah dilakukan sama seperti pengujian pada pasir ditambah dengan pemeriksaan kekerasan dan ketahanan aus.
a) Pemeriksaan Kekerasan kerikil dilakukan dengan bejana Rudellof, bagian yang hancur ( tembus ayakan 2 mm) tidak boleh lebih dari 30 %
b) Pemeriksaan ketahanan aus dilakukan dengan mesin uji aus “ LOS ANGELES”, bagian yang hancur tidak boleh lebih dari 50 %.
c) Pemeriksaan Berat Jenis dan Daya Serap Air Agregat kasar.




III. Peralatan dan Bahan
1. Peralatan
  • Timbangan ( gr )
  • Oven Pengering
  • Ayakan Standar
  • Bejana Silinder lengkap stempelnya
  • Batang Pemadat
  • Mesin Penekan
2. Bahan
Agregat kasar ( split ) yang akan diuji dalam keadaan jenuh air kering permukaan atau dalam keadaan kering yaitu dengan mengeringkannya dalam oven pada suhu 110 ± 50 selama 4 jam.

IV. Prosedur Pelaksanaan
1. Saring agregat kasar dengan susunan angka 12,5 mm dan 9,5 mm
2. Masukan agregat dengan fraksi 12,5 mm-9,5 mm kedalam bejana setinggi 10cm dalam 3 lap yang masing-masing lapisan dipadatkan sebanyak 25x dengan batang baja.
3. Ratakan permukaan agregat
4. Keluarkan benda uji dari bejana dan timbang beratnya  ( gr )
5. Lakukan pekerjaan no 2 dan 3sekali lagi
6. Letakkan stempel penekan didalam bejana
7. Tekan bejana berikut stempelnya dengan tekan 40 KN yang dicapai dalam waktu 10 menit
8. Setelah penekan keluarkan benda uji dari dalam bejana
9. Saring benda uji yang telah ditekan dengan saringan 9,5 mm
10. Timbang berat benda uji yang tahan diatas ayakan 9,5  mm ( B gr )
11. Hitung % benda uji yang menembus lubang ayakan 9,5  mm

V. Data-Data Hasil Perhitungan
Benda uji yang menembus lubang ayakan 9,5 mm = A – B x 100%
                                                                                          A
Tertahan 12,5 mm = 1500 gr
Tertahan   9,5 mm = 1500 gr
Campuran              = 3000 gr
Lolos saringan 2.36 mm = 55,55 gr
Tertahan saringan 2.36 mm = 2944.45 gr

Kekerasan =   = 1.852 %
VI. Kesimpulan
Dari hasil pengujian kekerasan yang didapat yaitu sebesar 1.852 < 30%. Jadi, keausan tersebut memenuhi syarat untuk pembuatan beton.

VII. Referensi
            1. BS 812 : Part 3 : 1975















SUBJEK        : II. Pengujian Agregat
TOPIK            : 8. Keausan Agregat Kasar
 

I. Maksud dan Tujuan
            a. Maksud
Setelah akhir pelajaran mahasiswa diharapkan dapat menentukan agregat kasar untuk pembuatan suatu konstruksi beton berdasarkan kekerasannya.
            b. Tujuan
Setelah akhir pelajaran mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menerangkan prosedur pelaksanaan pengujian kekerasan agregat kasar dengan menggunakan bejana tekan ( berdasarkan standar British )
2. Menentukan sifat keras terhadap daya hancur dari agregat kasar
3. Menggunakan peralatan yang diperlukan

II. Teori Dasar
Untuk memeriksa agregat kasar ,kerikil alam dan batu pecah dilakukan sama seperti pengujian pada pasir ditambah dengan pemeriksaan kekerasan dan ketahanan aus.
a) Pemeriksaan Kekerasan kerikil dilakukan dengan bejana Rudellof, bagian yang hancur ( tembus ayakan 2 mm) tidak boleh lebih dari 32 %
b) Pemeriksaan ketahanan aus dilakukan dengan mesin uji aus “ LOS ANGELES”, bagian yang hancur tidak boleh lebih dari 50 %.
c) Pemeriksaan Berat Jenis dan Daya Serap Air Agregat kasar.




III. Peralatan dan Bahan
1. Peralatan
  • Timbangan ( gr )
  • Oven Pengering
  • Ayakan Standar
  • Bejana Silinder lengkap stempelnya
  • Bola-Bola baja
2. Bahan
Agregat kasar ( batu pecah ) yang akan diuji dalam keadaan jenuh air kering permukaan atau dalam keadaan kering yaitu dengan mengeringkannya dalam oven pada suhu 110 ± 50 selama 4 jam.

IV. Prosedur Pelaksanaan
1. Saring agregat kasar dengan susunan angka 6,3 mm dan 4,75 mm
2. Masukan agregat dengan fraksi 6,3 mm - 4,75 mm kedalam mesin Los Angeles
3. Masukkan bola-bola yang merupakan bagian dari mesin sebanyak 8 buah
4. Putarkan mesin sebanyak 100 putaran
5. Keluarkan aggregate lalu ayak dengan saringan 2.36 mm
6. Timbang aggregate yang lolos saringan 2.36 mm

V. Data-Data Hasil Perhitungan
Keausan = 
Tertahan   6,3 mm = 2500 gr
Tertahan   4,75 mm = 2500 gr
Campuran              = 5000 gr
Lolos saringan 2.36 mm = 241,16 gr
Tertahan saringan 2.36 mm = 4758.84 gr
Keausan =  = 4.8232 %

VI. Kesimpulan
Jadi, keausan yang didapat = 4.8232 %

VII. Referensi
            1. BS 812 : Part 3 : 1975































SUBJEK        : III. Pengujian Beton
TOPIK           : 1. Slump Test
 

I. Maksud dan Tujuan
            a. Maksud
Setelah akhir pelajaran mahasiswa diharapkan dapat menentukan batas slump test pada beton yang dibuat.
            b. Tujuan
Setelah akhir pelajaran mahasiswa diharapkan dapat :
-          Mengetahui prosedur dan langkah kerja pengujian slump test
-          Mengetahui seberapa besar penurunan mortar dalam pengujian

I.         Peralatan dan Bahan
1.         Peralatan
·      Kerucut terpancung
·      Penumbuk
·      Mistar
2.         Bahan
·      Beton segar

II.      Prosedur Pelaksaan
1.    Masukkan beton segar kedalam kerucut sebanyak 1/3 kerucut.
2.    Padatkan beton yang telah dimasukkan dengan cara menumbuknya sebanyak 25x dengan alat penumbuk.
3.    Masukkan kembali beton hingga 2/3 kerucut.
4.    Lakukan hal yang sama pada no. 2
5.    Masukkan lagi beton hingga memenuhi kerucut dan lakukan hal no. 2
6.    Ratakan beton sampai penuh pada kerucut tersebut.
7.    Angkat kerucut, lalu ukurlah penurunan beton dengan mistar dari tinggi kerucut semula.
8.    Apabila penurunan belum memenuhi slump test yang telah ditentukan, maka lakukan kembali pengadukan beton dengan menambahkan air dengan perhitungan.

III.   Data Hasil Pengujian
Penurunan beton yang didapat yaitu 65mm.

IV.   Kesimpulan
Slump yang didapat yaitu sebesar 65mm memenuhi syarat untuk pembuatan beton K250 karena sama dengan slump yang telah ditentukan sebelumnya dengan kondisi-kondisi yang telah diperhitungkan.

V.       Reverensi















SUBJEK        : III. Pengujian Beton
TOPIK           : 2. Pemeriksaan Bobot Isi Beton Segar
 

I.         Maksud dan Tujuan
a.    Maksud
Mahasiswa diharapkan dapat menghitung boboi isi beton yang telah dibuat.
b.    Tujuan
Mahasiswa diharapkan dapat:
-          Mengetahui dasar-dasar pelaksanaan dan langkah kerja pemeriksaan bobot isi beton segar
-          Mengetahui hasil bobot beton yang diuji dan dapat menerapkan dalam pekerjaan beton.

II.      Peralatan dan Bahan
1.      Peralatan
·      Tabung Silinder
·      Timbangan
·      Penumbuk
·      Density Spoon
·      Spatula
2.               Bahan
·      Beton segar

III.   Prosedur Palaksanaan
1.    Ukur tabung silinder yang akan digunakan.
2.    Timbang silinder tersebut
3.    Masukkan beton segar sebanyak 1/3 bagian tabung silinder
4.    Tumbuk beton yang telah dimasukkan sebanyak 25x
5.    Masukkan lagi beton sebanyak 2/3 tabung silinder dan lalukan hal no.2
6.    Masukkan kembali beton segar hinnga penuh dan lakukan hal yang sama seperti no. 2
7.    Timbang beton tabung silinder beserta beton tang telag dimasukkan ke dalamnya.
IV.   Data Hasil Pengujian
Deskripsi

Berat
satuan
BERAT BETON + CAWAN

20430,00
gram
BERAT CAWAN

5220,00
gram
BERAT BETON

15210,00
gram
UKURAN SILINDER
T
22,50
cm
D
20,40
cm
VOLUME SILINDER

7350,43
cm3
BOBOT ISI BETON

2,07
gr/cm3
Konversi

2069,27
kg/m3
 
V.      Kesimpulan
Bobot beton yang didapat dari hasil pengujian adalah 2069.27 kg/m3

VI.    Reverensi














SUBJEK        : III. Pengujian Beton
TOPIK           : 1. Pemeriksaan Kuat Tekan Beton
 

I . Maksud dan Tujuan 
a. Maksud
Mahasiswa diharapkan dapat membuat beton sesuai dengan rancangan beton yang diinginkan .
b. Tujuan
Mahasiswa diharapkan dapat :
1.          Menerangkan prosedur pemeriksaan kuat tekan beton
2.          Mengaduk beton secara maksimal
3.          Membuat benda uji untuk pemeriksaan kuat tekan beton .
4.          Melakukan proses pemotongan ( cutting ) dari benda uji setelah dibuka dari cetakan
5.          Menggunakan peralatan yang dipakai.

II. Teori Dasar
Kuat tekan beton merupakan faktor yang utama dan penting untuk diperhatikan di dalam pelaksanaan pengecoran dilapangan. Yang kemudian akan saya garis bawahi adalah terkait umur beton dan kuat tekan karakteristik yang dimilikinya pada umur tersebut. Rata-rata, beton mencapai kekuatan tekan karakteristik rencananya pada umur 28 hari. Pada umur tersebut kuat tekan karakteristik beton mencapai kekuatan rencananya.Dibawah ini adalah grafik hubungan antara umur beton dengan faktor kuat tekannya. Pada peraturan beton (PBI 1971), hanya dimunculkan faktor kekuatan pada umur 3 hari, 7 hari, 14 hari dan 28 hari.
kuat tekan
Mengetahui kekuatan tekan beton karakteristik ini penting, mengingat pada proyek konstruksi, uji tekan sample beton dilapangan terkadang dites tidak tepat pada umurnya (baca: 28 hari), sehingga perlu dilakukan pengkoreksian dengan menggunakan faktor kekuatan untuk kemudian diketahui apakah pada umur tersebut kekuatan karakteristinya memenuhi atau tidak.
  1. Pengujian pada umur 3 hari –> 37 Mpa x 0,4 = 14,8 Mpa
  2. Pengujian pada umur 7 hari –> 37 Mpa x 0,65 = 24,05 Mpa
  3. Pengujian pada umur 10 hari –> 37 Mpa x 0,77 = 28,49 Mpa
  4. Pengujian pada umur 18 hari –> 37 Mpa x 0,91 = 33,67 Mpa
Jadi, fungsi faktor kekuatan tersebut adalah mengetahui kesesuaian kekuatan tekan karakteristik rencana dengan umur pada saat sample tersebut di tes.


III . Peralatan dan Bahan
  1. Peralatan
    • Mesin penekan
    • Meja penggetar
    • Cetakan beton
    • Tongkat pemadat
    • Mistar
    • Timbangan

  1.  Bahan
Adukan beton untuk pembuatan benda uji harus diambil langsung dari mesin pengaduk dengan menggunakan peralatan yang tidak menyerap air . Adukan beton harus diaduk lagi sebelum diisikan kedalam cetakan .

IV . Prosedur Pelaksanaan
  1. Pembuatan benda uji
    1. Isi cetakan dengan adukan beton dalam 3 lapis , setiap lapis berisi kira – kira ⅓ isi cetakan . Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali secara merata .
                        Perhatikan !
                        Jika pemadatannya dilakukan dengan menggunakan vibrator
                        penggetar , baik itu internal vibrator atau meja getar , pengisian
                        adukan beton kedalam cetakan dilakukan sekaligus .
                        Penggetaran dihentikan apabila permukaan adukan beton nampak
                        mengkilap oleh air semen dan udara tidak ada yang keluar dari
                        adukan beton .
    1. Ratakan permukaan beton .
    2. Biarkan beton dalam cetakan selama ± 24 jam dan letakan pada tempat yang bebas getaran serta ditutup oleh bahan yang kedap air
    3. Setelah 24 jam , bukalah cetakan dan keluarkan benda uji .
    4. Rendam benda uji dalam bak yang berisi air agar proses pemotongan (cuting) beton berlangsung dengan baik , maka perendaman ini dilakukan sampai batas waktu pengujian kuat tekan
  1. Penekanan benda uji
    1. Ambil benda uji dari bak perendam dan lap dengan menggunakan lab lembab .
    2. Tentukan berat dan ukuran benda uji
                        Perhatian !
Jika benda ujinya berbentuk silinder , sebelum benda uji tersebut ditekan harus diberi lapisan mortar / semen / belerang dipermukaan atas dan bawah setebal 4 mm , untuk meratakan permukaan bidang tekan .
    1. Letakan benda uji pada mesin tekan secara sentris 
    2. Jalankan mesin dengan penambahan beban terutama berkisar antara 2 sampai 4 Kg/cm2 perdetik
Pembebanan ini dilakukan sampai batas maksimum dan catat hasilnya .
    1. Hitung kuat tekan dari benda uji tersebut .













V. Data-Data Hasil Perhitungan
Perencanaan beton normal
           
No
Uraian
Tabel/Grafik/Perhitungan
Nilai
Keterangan
1
Kuat tekan rencana ( fc')

25
Mpa
2
Deviasi standar (s)
Tabel 2 atau Tabel 1
8.5
Mpa
3
Nilai tambah m = 1,64 x s

13.94
Mpa
4
Kuat tekan rata-rata target f'cr= fc' +m

38.94
Mpa
5
Jenis semen



6
Jenis Agregat: halus





kasar

silinder
kubus

7
Faktor air semen
Tabel 4/Gambar 1 atau 2
0.49
0.54






terkecil
8
Faktor air semen maksimum
Tabel 5/6/7
0.55

9
Slump
Tabel 8
65.00
mm
10
Ukuran agregat maksimum
analisa saringan
95.00
mm
11
Kadar air bebas
Tabel 9
233.25
kg/m3
12
Jumlah semen
(11)/(8) atau (11)/(7)
476.02
431.94
kg/m3
13
Jumlah semen maksimum



Diabaikan jika tdk ditetapkan
14
Jumlah semen minimum
Tabel 5,6 dan 7
325.00
pakai bila> (12),
lalu hitung (15)
15
Faktor air semen yang disesuaikan




16
Susunan besar butir agregat halus
Gambar 3
zona IV
zone gradasi
17
Persen agregat halus
Gambaf 4a/4b/4c
0.35
0.36

18
Berat jenis relatif agregat (SSD)

2.73
2.75

19
Berat jenis beton
Gambar 5
2380.00
kg/m3
20
Kadar agregat gabungan
(19)-(12)-(1 1)
1670.73
1714.81
kg/m3
21
Kadar agregat halus
(17)x(20)
584.76
617.33
kg/m4
22
Kadar agregat kasar
(20)-(21)
1085.97
1097.48
kg/m5
No
Berat
Kuat tekan
1
8,026 kg
405
2
8,033 kg
385
3
8,026 kg
390
Kuat tekan dilakukan setelah beton berumur tiga hari.




Untuk kuat tekan beton 28 hari :
No
Berat
Kuat tekan(kg/cm2)
(X-)2
1
8,026 kg
450
177,778
2
8,033 kg
427,5
84,028
3
8,026 kg
432,5
17,361
Rata-rata
436,667
279,167

 STANDARD DEVIASI
 σ         = ==11,814

Fc’       = K. Target – 1,64 (standard deviasi)
            = 436,667 – 1,64. 11,84
            = 417,249 kg/m2

VI. Kesimpulan
Dari data yang di peroleh dan direncanakan memiliki data yang berbeda yaitu pada di rencanakan menginginkan kuat tekan beton 250 kg/m2, akan tetapi pada kenyataan berdasarkan perhitungan dengan rumus yang ada kuat tekan di hasilkan adalah 417,249 kg/m2. hal ini di sebabkan oleh adanya penambahan material pada saat pengadukan, material tambahan nya adalah semen. Semen ditambahkan pada saat pengadukan dikarenakan adukan atau campuran beton tidak memiliki slump yang di rencanakan.
Dari kegiatan ini dapat di simpulkan bahwa yang membuat kuat tekan yang bagus adalah di dominasi oleh semen portland.

VII. Referensi
  1. PC – 0103 – 76
  2. ASTM C – 617 – 71